JACCM-1-1024x671.jpeg
02/Apr/2024

Kepada yang terhormat
Rekan Sejawat

Transisi epidemiologi yang terjadi dewasa ini menyebabkan kelompok penyakit tidak menular semakin prevalen, tidak terkecuali kanker. International Agency on Research for Cancer melalui program GLOBOCAN tahun 2020 melaporkan sebanyak 19.292.789 kasus baru kanker per tahun secara global dengan 9.958.133 kasus kematian per tahun. Agensi yang sama melaporkan sebanyak 396.914 kasus baru kanker per tahun di Indonesia dengan 234.511 kasus kematian per tahun. Angka tersebut masih mungkin mengalami peningkatan di kemudian hari, sebagaimana temuan studi Riset Kesehatan Dasar oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang mendapati peningkatan prevalensi kanker dari 1,4‰ pada tahun 2013 menjadi 1,49‰ pada tahun 2018.

Menanggapi permasalahan ini, kolaborasi multidisiplin menjadi kunci untuk mengatasi kompleksitas penatalaksanaan kanker. Dengan adanya kolaborasi multidisiplin, diharapkan adanya komunikasi antar bidang ilmu dan spesialisasi kedokteran dan demarkasi kewenangan penatalaksanaan kanker, sehingga konflik dan tumpang tindih dapat terminimalisasi. Konsep kolaborasi ini pun semakin banyak diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari melalui pelaksanaan tumor board atau tumor meeting dalam pengambilan keputusan terkait tatalaksana pasien kanker.

POI JAYA mengajak kepada rekan – rekan sejawat untuk bisa bergabung dalam sebuah program kegiatan ilmiah yaitu The 4th Jakarta Annual Collaborative Cancer Meeting ( JACCM ) 2024, Program yang terakreditasi SKP Kemenkes ini akan dilaksanakan pada :

  • Hari / Tanggal : Jum’at – Minggu, 3 – 5 Mei 2024
  • Waktu : 08.00 – 17.00 WIB
  • Tempat : Hotel JS Luwansa, Jakarta
  • Link Registrasi : bit.ly/The4thJACCM2024

Hayooo…. Daftarkan segera….

JACCM
JACCM1
JACCM2
JACCM3
JACCM4

WhatsApp-Image-2023-03-31-at-11.25.28-1024x682.jpeg
03/Apr/2023

Along with World Cancer Day theme “We Care to Close the Care Gap”, in this day INASO brought the theme “We Care to Close The Care Gap” to public. The Aim of this activity is to raise public awareness to cancer. Hopefully support of family, friends, and general public to cancer patient could eliminate the doubts of cancer patients in seeking health services. Together with cancer survivor, health workers (nurse, lab technician, radiographer) and Doctors who treat cancer in various fields who are member of INASO and Dharmais National Cancer Have Complete 2K fun walk on 19th February 2023 at Kota Tua, Jakarta Indonesia. This event was continued with a talk show for public with the theme “We Care to Close The Care Gap”. Target audience for this event was 250 participants.

To complete the series of WCD activities, INASO also held “How to Close The Care Gap” symposium. This symposium invited representatives from The Ministry of Health of The Republic of Indonesia and National Insurance. This symposium discussed the gap between ministry and national insurance policies with clinical practice in Indonesia. Hopefully this symposium would bring changes in Cancer Services in Indonesia for the better future.


dharmais.jpg
08/Mar/2021

Perawatan Paliatif Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Kanker dan Mengurangi Beban  Keluarga

Maria A. Witjaksono

 

“Semua usaha telah dilakukan, tetapi hasilnya tidak seperti yang kami harapkan.  Tidak ada lagi yang dapat dilakukan, jadi sebaiknya pasien dibawa pulang”atau

Karena pengobatna sudah selesai….sekarang pasien saya serahkan ke tim Paliatif…..

Kalimat tsb sering kita dengar ketika seorang pasien kanker mengalami penyakit yang progresif yang tidak dapat dihentikan dengan pengobatan kanker seperti operasi, radiasi, kemoterapi atau pengobatan lain. Pasien dinyatakan masuk dalam stadium terminal.

Pada kondisi seperti di atas,  pasien biasanya mengalami penderitaan akibat berbagai gejala yang muncul, bisa akibat penyakitnya, karena efek samping pengobatan, karena tirah baring atau karena penyakit lain yang menyertai. Hal tersebut dapat menimbulkan penderitaan bagi pasien dan beban bagi keluarga. Selain gejala fisik, pasien juga dapat mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi atau frustrasi, kesulitan sosial misalnya menarik diri atau  masalah spiritual yangdapat  muncul dalam bentuk menyalahkan diri, penyesalan atau marah kepada Sang pencipta

Menghadapi hal tsb, keluarga biasanya mengalami kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan.  Istilah paliatif juga menjadi hal baru yang tidak dimengerti.  Artikel ini membahas tentang definisi perawatan paliatif, apa tugasnya dan jenis layanan yang diberikan, agar pemebaca memahami dan bisa mendapatkan perawatn yang diperlukan bagi nagi pasien dan dukungan bagi keluarga yang mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit stadium lanjut atau terminal.

DEFINISI:

Perawatan paliatif adalah suatu pendekatan untuk mencapai kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini,  penilaian yang seksama dan pengobatan nyeri dan masalah masalah lain, baik masalah fisik, psikososial dan spiritual

PRINSIP-PRINSIP PERAWATAN PALIATIF

  • Menghilangkan nyeri dan gejala fisik lain
  • Menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal
  • Tidak bertujuan mempercepat atau menghambat kematian
  • Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial dan spiritual
  • Memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin
  • Memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita
  • Menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya
  • Menghindari tindakan yang sia sia

BENTUK LAYANAN PALIATIF

  1. Penanggulangan nyeri
  2. Penanggulangan keluhan lain penyerta penyakit primer :
    • gangguan saluran nafas
    • gangguan saluran cerna
    • gangguan saluran kemih
    • gangguan aktifitas, dll
  3. Bimbingan psikologis, sosial & spiritual
  4. Persiapan kemampuan keluarga untuk perawatan pasien di rumah
  5. Kunjungan rumah berkala, sesuai kebutuhan pasien dan keluarga
  6. Bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga
  7. Asuhan keperawatan terhadap pasien dengan : luka, gastrostomi, colostomy, selang makan (NGT), kateter dll
  8. Membantu penyediaan sarana / alat bantu kesehatan : tabung O2, suction, nebulizer, kasur dekubitus, dll.
  9. Membantu penyediaan tenaga perawat home care
  10. Membantu penyediaan pelaku rawat / caregiver
  11. Membantu kesiapan menghadapi akhir hayat dengan tenang dan dalam iman
  12. Memberi dukungan masa duka cita
  13. Konsultasi melalui telepon

TEMPAT LAYANAN PALIATIF

Kegiatan perawatan paliatif dapat dilakukan melalui :

    • Layanan Paliatif di rumah : Hospice Home Care, Home Visit
    • Layanan Paliatif Rawat Jalan : poli paliatif
    • Layanan Paliatif Rawat Inap DI Rumah Sakit

KAPAN PERAWATAN PALIATIF SEBAIKNYA DIBERIKAN?

Sesuai definisi yang baru, WHO menganjurkan perawatan paliatif tidak hanya pada pasien yang telah sampai pada stadium terminal, namun sebaiknya dimulai lebih awal sesuai kebutuhan pasien dan keluarga. Namun prinsionya bila pasien mengalami penderitaan dan keluarga menglami kesulitan dalam merawat pasien

TIM PERAWATAN PALIATIF

Untuk dapat mencapai tujuan perawatan paliatif sehingga dapat mengurangi penderitaan pasien dan beban keluarga serta mencapai kualitas hidup yang lebih baik, diperlukan sebuah tim yang bekerja secara terpadu yang melibatkan berbagai disiplin dan spesialis, dan bidang psikologi, sosial dan spiritual. Perawatan paliatif juga sangat membutuhkan tenaga relawan.  Dengan prinsip interdisipliner, tim paliatif secara berkala melakukan diskusi untuk melakukan penilaian dan diagnosis, untuk bersama pasien dan keluarga membuat tujuan dan rencana perawatan paliatif, serta melakukan monitoring dan follow up.


dharmais.jpg
08/Mar/2021

PRINSIP PERAWATAN PALIATIF​​ 

DAN IMPLEMENTASINYA DALAM DUNIA KESEHATAN DEWASA INI

Maria A. Witjaksono

 

Mengurangi penderitaan adalah menjadi hal yang sangat penting dalam setiap layanan kesehatan ketika usaha untuk mencapai kesembuhan tidak lagi memungkinkan. ​​ Hal tersebut sangat diharapkan oleh pasien dan keluarganya dan mereka memiliki hak untuk mengharapkannya. ​​ Oleh karena itu, setiap tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menyediakannya bila indikasi ditemukan” Derek Doyle, 1999​​ 

Meningkatnya angka harapan hidup membawa resiko​​ makin tingginya insiden dan prevalensi​​ penyakit kanker.​​ Dengan kemajuan ilmu dan tehnologi kedokteran, pasien dengan penyakit penyakit tersebut saat ini dapat​​ memilki harapan hidup lebih lama, namun sebagian besar akhirnya akan meninggal karena penyakitnya.​​ Di Indonesia, khususnya karena sebagian besar pasien mencari pertolongan medis pada stadium lanjut, angka harapan hidup lebih rendah bila dibanding dengan negara maju.​​ Penderitaan yang dialami oleh pasien dan keluarga akibat penyakit tersebut seperti munculnya gejala fisik yang berat, gangguan psikologis, kesulitan sosial, masalah spiritual memerlukan pendekatan terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu dan berkelanjutan.

Integrasi perawatan paliatif ke dalam penatalaksanaan kanker terpadu dan penyakit lain yang belum dapat disembuhkan telah lama dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia,WHO. ​​ 

Perawatan Paliatif merupakan pendekatan yang efektif ​​ bagi pasien yang penyakitnya tidak dapat disembuhkan, bertujuan untuk mengurangi penderitaan dan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarganya dengan mengantisipasi masalah yang mungkin timbul dan meminimalkan dampak dari progresifitas penyakit sehingga pasien dapat berfungsi semaksimal mungkin sesuai dengan kondisinya sebelum akhirnya meninggal. ​​ 

Pada saat pengobatan kuratif belum mampu memberikan kesembuhan yang diharapakan dan usaha preventif baik primer maupun sekunder belum terlaksana dengan baik sehingga sebagian besar pasien ditemukan dalam stadium lanjut, perawatan paliatif sudah semestinya menjadi satu satunya layanan fragmatis dan jawaban yang manusiawi bagi mereka yang menderita akibat penyakit- penyakit tersebut di atas. ​​ 

Di Indonesia, Perawatan paliatif ​​ telah dituangkan ke dalam Sistem Kesehatan Nasional,​​ dengan SK Menkes No.812/Menkes/SK/VII/2007, tentang ”Kebijakan Perawatan Paliatif”. ​​ Namun dalam implementasinya ditemukan beberapa hambatan, sehingga perkembangannya sangat lamban di banding dengan negara negara lain di Asia Tenggara.​​ 

Topik ini akan membahas tentang Prinsip Penatalaksanaan Perawatan Paliatif, implementasi Perawatan Paliatif dewasa ini dan gagasan ​​ pengembangannya agar layanan kesehatan menjadi efektif dan efisien terutama di era BPJS

 

Definisi:

Perawatan paliatif adalah suatu pendekatan untuk mencapai kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa dengan mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini, ​​ penilaian yang seksama dan pengobatan nyeri dan masalah masalah lain, baik masalah fisik, psikososial dan spiritual

         (WHO, 2002)

Di tahun 2005​​ WHO menganjurkan perawatan paliatif​​ menjadi bagian yang terintegrasi dalam penatalaksanaan kanker,​​ tidak hanya pada pasien yang telah sampai pada stadium terminal, namun sebaiknya dimulai lebih awal sesuai kebutuhan pasien. ​​ Progresifitas penyakit dapat berlainan diantara pasien dan tidak selalu mengikuti pola yang ada. ​​ Mengetahui kapan sebaiknya perawatan paliatif diberikan sangat penting bagi tiap- tiap pasien dan hal ini memerlukan pengetahuan yang memadai tentang dasar dan perjalanan penyakit serta patofisiologi gejala yang ada.​​ 

Comprehensive Cancer Care

E:\scan\gambar 3.jpg

 

Skema di atas menunjukkan bahwa​​ perawatan palaitif dapat dimulai sejak diagnosis kanker ditegakkan atau bahkan​​ ketika diagnosa belum ditegakkan, bila pasien mengalami penderitaan.​​ ​​ Skema tsb juga menggambarkan bahwa​​ perawatan paliatif memiliki peranan yang semakin besar dengan perjalan penyakit yang semakin lanjut.

 

PRINSIP-PRINSIP PERAWATAN PALIATIF

  • Menghilangkan nyeri dan gejala fisik lain

  • Menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal

  • Tidak bertujuan mempercepat atau menghambat kematian

  • Menghindari tindakan yang sia sia

  • Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial dan spiritual

  • Memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin

  • Pasien adalah pemegang peran utama dalam pengambilan keputusan

  • Memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita

  • Menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya

 

Menghilangkan nyeri dan gejala fisik lain

Tujuan perawatan paliatif yang terutama adalah mengurangi penderitaan pasien. Nyeri dan gejala fisik lain​​ yang tidak tertangani dengan baik adalah sumber penderitaan pasien dan keluarga.​​ Di dalam perawatan paliatif, nyeri dikategorikan dalam kondisi darurat yang harus segera mendapatkan tatalaksana. Bila tidak, nyeri akan menimbulkan atau memperberat gejala fisik lain seperti mual/muntah, gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, gangguan mobilisasi dan dalam melakukan aktifitas yang pada akhirnya mengurangi kualitas hidup pasien dan meningkatkan beban keluarga.​​ Sebaliknya, nyeri akan meningkat bila gejala lain tidak tertata laksanan dengan baik. Penyebab nyeri atau gejala lain pada pasien kanker dapat diakibatkan oleh kanker itu sendiri, tindakan diagnosa atau pengobatan yang diberikan, kondisi tirah baring dan komorbiditas.

Prinsip penatalaksanaan nyeri dan gejala lain meliputi: a. atasi penyebabnya bila memungkinkan, b. Medikamentosa dan c. Non medikamentosa

Dalam penatalaksanaan nyeri atau gejala lain juga sangat perlu memperhatikan:

Prognosis/disease progression

Functional status

Goal of tratment

Previous treatment

Other symptoms

Co-morbidity

Psychosocial and spiritual aspects

Patient’s wishes

Penatalaksanaan gejala secara simtomatis harus diberikan sebelum tindakan kausatif dilakukan atau ketika tindakan kausatif belum memberikan hasil yang diharapkan, atau tidak dapat dilakukan oleh karena suatu sebab. ​​ 

Menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal

Perawatan paliatif sangat menghormati kehidupan, dan memandang kematian adalah bagian dari kehidupan. ​​ Oleh karena itu, pasien dengan kondisi apapun tanpa memperhatikan berapa umur yang tersisa akan diperlakukan dengan baik. ​​ Perawatan paliatif mengajak pasien untuk dapat menghargai kehidupan, dan memakai sisa waktu yang ada dengan ​​ berkualitas, misalnya dengan ​​ menyelesaikan masalah masalah yang masih ada, dan mencapai harapan ​​ yang masih ingin dicapai secara rasional.

Tidak bertujuan mempercepat atau menghambat kematian​​ 

Perawatan Paliatif bukan Etanasia. ​​ Tindakan yang dilakukan atau tindakan ​​ yang tidak dilakukan bertujuan untuk meringankan penderitaan pasien dan mengurangi beban keluarga, dan bukan untuk mempercepat kematian atau menghambat proses kematian.​​ Kematian diijinkan berlangsung selama alamiah.​​ Sehingga ketika penyakit berlangsung progresif dan ​​ penyebab kematian tidak dapat diatasi, segala tindakan yang tidak bermanfaat​​ mungkin dapat​​ dihentikan atau tidak diberikan.​​ 

Menghindari tindakan yang sia sia

Kualitas meninggal menjadi salah satu ciri dan tujuan dalam perawatan paliatif.  ​​​​ Namun kematian masih​​ sering​​ dianggap sebagai suatu kegagalan, baik oleh tenaga kesehatan maupun keluarga. ​​ Kematian seolah olah dianggap sebagai musuh, sehingga harus dicegah. Memberikan​​ tindakan maksimal seringkali dianggap melakukan hal​​ terbaik​​ oleh keluarga​​ ketika menghadapi kematian. Selain itu,​​ sebagaian besar​​ dokter​​ terus​​ berusaha agar pasien tidak meninggal sehingga memberikan apa saja yang bisa menghentikan proses kematian. ​​​​ Tanpa disadari kita mungkin telah sering ​​ memberikan tindakan yang sia sia, yang menambah penderitaan pasien demi usaha kita mencegah proses kematian. Bila hal itu terjadi, pasien kehilangan kesempatan untuk dapat meninggal secara alamiah. ​​ 

Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial dan spiritual

Aspek psikologis, sosial, spiritual dan aspek fisik tidak dapat dipisahkan satu sama lain. ​​ Masing masing saling berhubungan dan mempengaruhi. Gejala fisik tidak dapat tertangani baik tanpa memperhatikan dan menatalaksana gangguan psikologis, kesulitan sosial dan masalah spiritual. ​​ Oleh karena itu, semua aspek diatas harus diperhatikan dan ditatalaksana secara terintegrasi untuk ​​ mencapai tujuan perawatan paliatif yaitu mencapai kualitas hidup dan meninggal dengan bermartabat

Memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin

Dalam Perawatan Paliatif, pasien dianjurkan untuk dapat mandiri dan dapat melakukan aktifitas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan kondisi yang ada. ​​ Dengan demikian pasien akan memiliki​​ semangat untuk bertahan karena dihargai haknya dan diberi kesempatan untuk melakukan apa yang bisa dan ingin dilakukan. Dengan melakukan hal tsb, ​​ tanpa disadari pasien mampu bertahan hidup lebih lama.

Pasien adalah pemegang peran utama dalam pengambilan keputusan

Dalam ​​ perawatan paliatif, pasien memiliki hak untuk menentukan tindakan apa yang akan dijalani atau tidak akan dijalani dan turut dalam pengambilan keputusan​​ dalam rencana perawatan. ​​ Dengan demikian, komunikasi menjadi hal yang angta penting.​​ Komunikasi dengan pasien dan keluarga berdasarkan prinsip pasien memiliki hak untuk mengetahui kondisi sebenarnya, tetapi juga berhak untuk tidak mengetahui bila dikehendaki. ​​ Informasi yang diberikan diharapkan agar pasien mampu memahami kondisi apa yang terjadi, menerima dan beradapatsi dengan segala keterbatasan yang ditimbulkan oleh kondisi yang ada.​​ Bila kondisi ​​ pasien tidak lagi memungkinkan untuk mengambil keputusan karena kemampuan kognitifnya menurun, keluarga yang ditunjuk oleh​​ pasien​​ akan menggantikan perannya. Hal ini seringkali tidak mudah bagi keluarga. Oleh karena itu, dalam perawatn paliatif, ​​ Advanced Care Planning sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum kondisi pasien tidak mampu membuat keputusan.

Memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita

Klien dalam perawatan paliatif bukan hanya pasien tetapi juga keluarganya. ​​ Setelah pasien meninggal,​​ beban dan penderitaan keluarga mungkin belum selesai. ​​ Pendampingan oleh tim paliatif diperlukan agar keluarga dapat menerima kepergian tsb dengan baik, dan mampu beradaptasi dengan kehidupan baru tanpa almarhum/almarhumah. ​​ Pendampingan dilakukan samapi masa duka cita berakhir, yang biasanya berlangsung 13 bulan setelah pasien meninggal.

Menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya

Penderitaan yang dialami pasien dan beban yang ditanggung keluarga akibat penyakit kanker sangat kompleks. Tidak ada satu profesipun yang mampu menatalaksana sendiri.​​ Oleh karena itu diperlukan tim paliatif yang terdiri dari berbagai disiplin dan profesi seperti tenaga medis yang terdiri dari berbagai spesilais termasuk spesialis paliatif, perawat, fisioterapis dan terapis lain, psikolog, petugas sosial medik, rohaniawan dan relawan. ​​ Pasien dan keluarga juga menjadi bagian dalam tim paliatif. Tim paliatif berpijak pada pengertian yang sama tentang kondisi pasien akan bersama sama menentukan tujuan perawatan paliatif bagi masing masing pasien dan keluarga. Karena kondisi pasien bersifat dinamis, tujuan perawatan mungkin akan berubah disesuaikan dengan tahapan dalam fase paliatif.

Implementasi Perawatan Paliatif dalam praktek medis

Prinsip –prinsip​​ ​​ tsb dalam praktek paliatif​​ diterjemahkan dalam kegiatan sbb:

  • Penatalaksanaan gejala

  • Komunikasi​​ dengan pasien dan keluarga​​ 

  • Pembuatan keputusan

  • Pemberian​​ dukungan psikologis, sosial dan spiritual

  • Perawatan​​ pada masa akhir​​ kehidupan

  • Perawatan masa dukacita

 

 

Prinsip prinsip tersebut dapat​​ diterapkan di setiap jenjang layanan kesehatan, baik layanan primer termasuk homecare, layanan sekunder maupun layanan tersier. ​​ Tempat layanan bagi pasien Rumah Sakit dapat dilakukan di poliklinik, ​​ rawat inap, IGD, ICU atau rawat singkat tergantung dari kondisi pasien dan tujuan dari tindakan.

Khusus bagi pasien​​ stadium terminal, perawatan paliatif sebaiknya dilakukan di rumah pasien agar​​ dapat lebih memberikan rasa nyaman baik bagi pasien dan keluarga. Oleh karena itu, persiapan sebelum pasien dipulangkan dari rumah sakit menjadi penting, termasuk obat dan alat kesehatan yang diperlukan serta kemampuan keluarga dalam memberikan perawatn di rumah. ​​ Kerjasama antara petugas RS dan petugas kesehatan di layanan primer serta sistem rujukan ​​ dua arah harus diterapkan agar layanan paliatif menjadi efektif dan efisien.​​ 

Hal hal yang diperlukan agar Perawtan Paliatif dapat berkembang

Kebutuhan akan perawatan paliatif tidak dapat dihindari sehubungan dengan makin meningkatnya jumlah pasien kanker dan pasien dengan penyakit lain yang belum dapat disembuhkan. ​​ Dengan sudah dituangkannya program perawatan paliatif ke dalam Sistem Kesehatan Nasional ​​ perawatan paliatif kini menjadi bagian dari penatalaksanaan penyakit kanker di Indonesia yang perlu terus dikembangkan​​ agar penatalaksanaan pasien kanker menjadi lebih efektif dan efisien.​​ Untuk mencapai hal tsb diperlukan keterlibatan dan kerjasama​​ dari berbagai pihak​​ seperti

  • Sektor​​ Pendidikan:

Sektor pendidikan sangat penting untuk menyiapkan tenaga paliatif yang handal. Modul paliatif sebaiknya dapat masuk dalam kurikulum pendidikan dokter umum dan spesialis, IKM, keperawatan, psikologi, dll

 

  • Pemerintah:

Kebijakan Pemerintah​​ dalam membuat program paliatif ​​ harus​​ jelas dalam hal​​ 

 

  • DEFINISI

  • MODEL​​ LAYANAN DI SETIAP JENJANG LAYANAN KESEHATAN DAN ​​ SISTEM RUJUKAN 2 ARAH​​ 

  • SUMBER DAYA MANUASIA

  • BAGAIMANA MENGAKSES ​​ LAYANAN PALIATIF

  • KETERSEDIAAN OPIOID DAN OBAT OABAT LAIN

  • SISTEM PENDUKUNG

  • STRUKTUR ORGANISASI

  • DOKUMENTASI

  • PANDUAN LAYANAN PALIATIF DAN ASSESSMENT TOOLS​​ 

  • KUALIATAS DAN KEAMANAN​​ 

  • SISTEM ​​ PELAPORAN​​ 

  • KEBIJAKAN DALAM PENELITIAN DI BIDANG PALAITIF​​ 

 

 

  • ​​ Masyarakat​​ 

Pendidikan terhadap masyarakat tentang perawatan palaitif diperlukan untuk menimbulkan kesadaran tentang perlunya keterlibatan mereka dalam merawat pasien, terutama dalam stadium lanjut dan terminal.


08/Mar/2021

 Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS.

 Kanker otak merupakan penyakit yang berakibat sangat fatal bagi penderitanya. Sampai saat ini sebanyak 120 jenis tumor di otak telah diketahui dimana sebagian tumor itu tidak bisa diterapi dan berujung dengan kematian. Deteksi dini dan penanganan yang komprehensif sangat mempengaruhi apakah penderita bisa bertahan hidup atau tidak?, dan walaupun memang bisa bertahan hidup dengan kanker otak, apakah bisa menjalankan kehidupan sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik?.

Deteksi dini kanker otak dengan hanya menunggu tanda dan gejala muncul membuat terapi yang diberikan sangat terlambat, disamping itu yang terpenting adalah setiap orang akan mengalami tanda dan gejala kanker otak yang berbeda-beda. Tidak ada tanda dan gejala yang seragam sebagai ciri khas adanya kanker di otak kita. Semua itu tergantung dari faktor kanker (lokasi, ukuran, jenis, hormonal, jaringan penting sekitarnya dan lain-lain) dan faktor penderitanya (usia, daya tahan tubuh, penyakit lain, psikis dan lain-lain).

Begitu pula dengan penanganan kanker otak, tidak ada karakteristik tindakan yang bisa dikerjakan untuk semua kanker di otak. Setiap jenis kanker di otak memiliki protokol terapi yang berbeda-beda. Namun yang perlu diketahui adalah setiap kanker selalu memerlukan informasi tentang jenis kankernya untuk menjadi panduan terapi berikutnya seperti radiasi, kemoterapi, hormonal terapi, targeted therapy, imunoterapi, gen therapy dan lain-lain. Untuk mengetahui jenis kanker di otak bisa dilakukan dengan beberapa cara pembedahan yakni biopsi stereotaxi, biopsi terbuka maupun craniotomy gross tumor removal.

Mari kita kembali ke topik deteksi dini dulu karena ini sangat penting dalam keseluruhan penanganan kanker otak. Sudah menjadi postulat bahwa semakin dini suatu kanker di otak atau dimanapun dalam tubuh diketahui maka akan semakin mudah ditangani, akan semakin baik angka harapan hidup juga semakin baik kualitas hidup penderitanya.

Semua dari kita telah secara berkala melakukan medical check up untuk kesehatan kita, namun sepertinya dijaman sekarang dimana faktor resiko untuk kanker otak semakin tinggi dan banyak, medical check up tidaklah cukup. Brain check up sangat penting untuk dilakukan karena angka kejadian kanker otak dalam kurun waktu 10 tahun ini pesat meningkat. Brain check up cukup dengan MRI (Magnetic resonance imagine) kepala (dengan kontras kalau perlu). Dan semakin besar ukuran Tesla suatu mesin MRI akan makin baik dalam mendeteksi adanya kelainan di  dalam otak. Pemeriksaan MRI tidak ada pengaruh radiasinya karena hanya bekerja dengan medan magnet sehingga dari ibu hamil, bayi sampai orang tua renta, bahkan beberapa kali dalam sehari tidak akan memberikan efek radiasi kepada penderitanya.

Deteksi dini dengan Brain check up MRI  membuat kita merasa yakin dan nyaman bahwa kita memang tidak menghidap satu penyakit yang sangat menakutkan di otak kita. Kita masih harus bekerja dan bekerja demi anak, istri, dan negara.

Semoga informasi ini bermanfaat. Dan pada edisi berikutnya kita akan bahas mengenai tanda dan gejala yang bisa terjadi pada kanker otak; penanganan kanker otak komprehensif, dan topik lainnya. 

Salam
Dr. dr.  Made Agus Mahendra Inggas, SpBS.
Kepala,
Departemen Bedah dan Bedah Saraf
RS Khusus Kanker Siloam Semanggi
Jakarta. 

*Korespondensi: Made Agus Mahendra Inggas, Dr. dr. SpBS: Phone: +62 21 299 62 888 ext. 20760. Mobile: +6285882272267. Email: made.inggas@siloamhospitals.com 

 

 


08/Mar/2021

Radioterapi untuk Kanker​​ Paru

Dewi​​ Syafriyetti​​ Soeis Marzaini

Instalasi Radioterapi RS Kanker “Dharmais”

Apa yang dimaksud dengan radioterapi?

Radioterapi atau terapi radiasi adalah jenis pengobatan yang menggunakan sinar​​ X (foton)​​ atau​​ elektron​​ berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.​​ Radiasi​​ biasanya​​ diberikan dari luar tubuh oleh sebuah mesin pembangkit radiasi yang disebut​​ linear accelerator (linac)(Gambar 1).​​ Terapi ini bersifat lokal, yaitu hanya tertuju pada daerah tubuh yang mendapat radiasi saja. Terapi radiasi diberikan oleh dokter ahli onkologi radiasi.

http://images.dotmed.com/images/listingpics/1230680.jpg

Gambar​​ 1. Alat​​ linear accelerator

Anatomi Paru-Paru

Setiap orang memiliki 2 paru-paru; paru kanan terdiri dari 3 bagian (lobus), sedangkan paru kiri memiliki 2 lobus​​ (Gambar 2). Paru kiri lebih kecil dari kanan karena berbagi ruangan dengan jantung. Udara yang dihirup dari hidung akan masuk ke paru-paru melalui jalan napas​​ (trakhea). Selanjutnya​​ trakhea​​ bercabang dua memasuki paru-paru menjadi​​ bronkhuskanan dan kiri. Setelah masuk paru-paru, jalan napas bercabang-cabang lagi dan berukuran lebih kecil yang disebut​​ bronkhiolus. Di ujung-ujung​​ bronkhiolus​​ terdapat kantung-kantung kecil berisi udara yang disebut alveolus (jamak: alveoli). Di dalam​​ alveoli inilah terjadi pertukaran udara, yaitu diserapnya oksigen ke dalam darah dan keluarnya karbondioksida dari dalam darah ke udara luar.

Gambar​​ 2. Anatomi paru-paru dan jalan napas

Kanker Paru

Kanker paru adalah tumor ganas yang​​ muncul dari​​ lapisan yang melapisi​​ bronkhus, bronkhiolus​​ atau​​ alveolus. Terdapat dua kelompok besar kanker paru, yaitu:

  • Kanker paru bukan sel kecil atau​​ non-small cell lung cancer​​ (NSCLC);

  • Kanker paru sel kecil atau​​ small cell lung cancer​​ (SCLC).

Sebanyak 80-85% kasus kanker paru adalah NSCLC, sedangkan 15-20% sisanya adalah SCLC.​​ Jenis NSCLC selanjutnya terdiri dari 3 subtipe, yaitu adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar.

Stadium untuk NSCLC dan SCLC dilakukan dengan cara yang berbeda. Stadium NSCLC mengikuti​​ American Joint Committee on Cancer​​ (AJCC) dan​​ Union International Contre le Cancer​​ (UICC) yang terdiri dari empat stadium, yaitu stadium I sampai IV.Stadium SCLC dibuat oleh​​ the Veteran Affairs Lung Study Group​​ menjadi “limited disease​​ (LD)” and “extensive disease​​ (ED)”. Stadium LD adalah penyakit yang terbatas pada satu sisi dada saja, sedangkan ED adalah penyakit yang sudah meluas di luar rongga dada satu sisi.

Kapan radioterapi diberikan?

Radioterapi merupakan salah satu bentuk terapi utama pada kanker paru, baik untuk tujuan kuratif (kesembuhan) maupun paliatif (mengurangi gejala).​​ Pemberian radioterapi pada kanker paru tergantung pada​​ jenis dan​​ stadium penyakit.Radioterapi kuratif merupakan salah satu pilihan terapi pada NSCLC stadium I-III, sedangkan radioterapi paliatif diberikan untuk NSCLC stadium IV.

Pada SCLC stadium LD, radioterapi penting sebagai salah satu cara pengobatan karena tumor ini bersifat sensitif terhadap radiasi. Namun, radioterapi tidak berperan banyak pada SCLC stadium ED. Kadang-kadang diberikan radiasi pada otak sebelum tampak metastasis. Tindakan ini disebut​​ prophylactic cranial irradiation​​ (PCI).​​ 

  • Kanker paru bukan sel kecil​​ (NSCLC).

Pada​​ NSCLC, radioterapi dapat diberikan sebagai:

  • Terapi tambahan (ajuvan) setelah operasi (radioterapi saja atau kombinasi radioterapi dan kemoterapi) untuk membunuh sel-sel kanker yang masih ada di sekitar lokasi operasi. Biasanya diberikan dosis total 50 Gy dalam fraksi-fraksi kecil 1,8-2 Gy;

  • Terapi sebelum operasi (neoajuvan), biasanya bersama dengan kemoterapi, untuk mengecilkan ukuran tumor sehingga lebih mudah dioperasi. Dosis total umumnya 45-50 Gy yang diberikan dalam fraksi-fraksi kecil sebesar 1,8-2 Gy;

  • Terapi utama​​ (kadang-kadang bersama dengan kemoterapi), khususnya jika tumor tidak dapat dioperasi karena ukuran atau lokasinya, atau karena pasien tidak cukup sehat untuk menjalani operasi, atau jika pasien tidak mau menjalani operasi. Dosis total dapat diberikan 60-74 Gy dalam fraksi-fraksi kecil 2 Gy jika pasien dapat mentoleransi;

  • Terapi lokal tumor yang menyebar, misalnya metastasis di otak atau kelenjar anak ginjal (adrenal);

  • Terapi paliatif, yaitu terapi untuk mengurangi gejala-gejala akibat kanker stadium lanjut, seperti gejala nyeri, perdarahan, kesulitan menelan, batuk, atau masalah-masalah lain yang disebabkan penyebaran tumor ke tempat lain seperti ke otak.

  • Kanker paru sel kecil (SCLC)

  • Pada SCLC, radioterapi diberikan bersamaan waktu dengan kemoterapi pada SCLC stadium terbatas untuk mengobati tumor dan kelenjar getah bening dada. Pemberian kemoterapi dan radioterapi​​ sekaligus disebut​​ concurrent chemoradiation. Radiasi dapat diberikan pada kemoterapi siklus pertama atau kedua.Dosis dapat diberikan 1,5 Gy dua kali sehari sampai total dosis 45 Gy atau 1,8-2 Gy per hari sampai 60-70 Gy.

  • Radioterapi dapat juga diberikan setelah kemoterapi selesai kepada pasien SCLC stadium luas atau pasien dengan stadium terbatas yang tidak dapat mentoleransi kemoradiasi sekaligus;

  • Sekitar 50% pasien SCLC akan mengalami metastasis ke otak. Radioterapi dapat diberikan pada otak sebagai terapi pencegahan yang disebut​​ prophylactic cranial irradiation​​ (PCI). Dosis yang dianjurkan adalah 25 Gy dalam 10 fraksi atau 30 Gy dalam 10-15 fraksi.

  • Terakhir, radioterapi diberikan untuk mengecilkan tumor atau untuk meredakan gejala-gejala terkait kanker paru, seperti perdarahan, kesulitan menelan, batuk, napas tersengal-sengal, nyeri tulang dan masalah lain akibat penyebaran ke organ-organ lain seperti otak. Bentuk terapi ini disebut radioterapi paliatif.

Bagaimana​​ Radioterapi Diberikan?

Sebagian besar radioterapi diberikan dengan radiasi eksternal atau​​ external beam radiotherapy​​ (EBRT). Pada teknik ini, mesin​​ mengarahkan berkas sinar dari luar tubuh ke dalam tumor. Sebelum radiasi dimulai, tim radioterapi akan menentukan sudut-sudut yang tepat untuk mengarahkan sinar agar dosis yang efektif sampai ke tumor.​​ Harus dihitung agar dosis terbesar dapat sampai ke tumor di paru dengan sedikit dosis pada organ-organ sekitarnya yang penting, seperti jantung dan esofagus (kerongkongan).​​ Tahap ini disebut simulasi dan​​ planning. Penentuan dosis dan area penyinaran​​ dibantu​​ dengan​​ CT​​ scan.​​ 

Setiap terapi hanya berlangsung beberapa menit, tetapi butuh waktu lebih lama untuk mempersiapkan alat dan posisi pasien. Terapi biasanya berlangsung 5 hari seminggu selama 5-7 minggu.​​ Perkembangan teknologi memungkinkan area penyinaran dipertajam secara 3 dimensi, yang disebut 3D-conformal radiation therapy​​ (3D-CRT). Dengan teknik ini, berkas radiasi diarahkan sedemikian rupa dari berbagai arah mengikuti bentuk tumor sehingga tidak banyak jaringan sehat yang ikut terpapar radiasi​​ (Gambar 3).

 

http://www.centralgeorgiaradiation.com/wp-content/uploads/2012/03/trilogy2-300.jpg

Gambar​​ 3.​​ Linear accelerator​​ untuk 3D-conformal radiotherapy

Efek Samping Radioterapi

Pasien kanker paru yang mendapat radioterapi umumnya mengalami kelelahan​​ (fatigue)​​ dan kehilangan nafsu makan. Jika radiasi diberikan ke daerah leher atau bagian tengah dada, pasien juga dapat mengalami sakit tenggorokan dan kesulitan menelan. Pada kulit dapat terjadi iritiasi dan kemerahan seperti terbakar sinar matahari.​​ Sebagian besar efek samping menghilang segera setelah terapi selesai.

Jika terapi radiasi mengiritasi atau menimbulkan reaksi radang di paru, dapat muncul gejala-gejala batuk, demam atau napas tersengal-sengal beberapa bulan atau kadang-kadang beberapa tahun setelah radioterapi selesai. Sekitar 15% pasien mengalami keadaan ini, yang disebut pneumonitis radiasi. Pneumonitis radiasi ringan tidak memerlukan pengobatan dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, pada pneumonitis radiasi yang berat, diperlukan terapi kortikosteroid, misalnya tablet prednison. ​​ 

Radioterapi juga dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut yang permanen pada jaringan paru di lokasi tumor. Biasanya, jaringan parut ini tidak menyebabkan gejala. Namun, jaringan parut yang berat dapat ​​ menyebabkan batuk permanen dan kesulitan bernapas.​​ 

Daftar Pustaka

 

 

1


08/Mar/2021

Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), MHA

Kanker tidak mengenal usia. Anak-anak dan orang dewasa dapat terkena   kanker. Perbedaan antara kanker pada anak dan orang dewasa, salah satunya adalah kanker pada anak tidak dapat dicegah seperti halnya kanker pada orang dewasa. Jadi tidak ada istilah pencegahan kanker pada anak melainkan mewaspadai gejala kanker pada anak. Mengacu pada pernyataan di atas, sebagian orangtua tentu bertanya-tanya tentang apakah masih ada gunanya mengajarkan pola hidup sehat kepada anak-anak. Pola hidup sehat tetap harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Tujuannya memang bukan untuk mencegah kanker pada anak, namun untuk mencegah kanker yang sekiranya dapat timbul saat anak ini telah menjadi orang dewasa. Sebab, seperti telah ditulis sebelumnya di atas, kanker pada orang dewasa dapat dicegah.

 

Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun ada 4100 kasus baru kanker pada anak. Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Kanker “Dharmais” pada tahun 2006, lebih kurang 50% pasien yang datang sudah dalam keadaan stadium lanjut. Berdasarkan penelitian, hal ini disebabkan salah satunya oleh karena orangtua pasien yang kurang mendapat informasi tentang kanker pada anak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui tentang gejala-gejala apa saja yang harus diwaspadai pada anak yang dicurigai terkena kanker. Segera bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya untuk dikonfirmasi apakah benar gejala-gejala yang dijumpai itu suatu kanker. Jika ternyata itu bukan kanker, tentunya kita patut mensyukurinya. Jika ternyata itu benar kanker, tetap kita harus mensyukurinya karena berarti kanker tersebut ditemukan pada stadium awal. Kanker yang dijumpai pada stadium awal tentunya mempunyai kemungkinan untuk sembuh lebih besar dibanding kanker yang dijumpai pada stadium lanjut.

Dibeberapa literatur, kanker disebut juga sebagai keganasan. Jika diperhatikan karakteristik dari sel kanker, memang benar sel-sel ini sangat ganas. Bagaimana tidak, sel-sel tersebut ternyata mempunyai kemampuan untuk menyebar ke organ-organ tubuh yang lain di luar dari organ primernya melalui pembuluh darah atau  kelenjar getah bening. Secara logika, kalau itu kanker mata, harusnya sel-sel kanker tersebut adanya di mata saja dan tidak menyebar kemana-mana. Namun apa yang terjadi, dari hasil pemeriksaan CT-scan otak, sel-sel kanker yang harusnya ada di mata saja ternyata sudah mencapai otak. Jika keadaannya sudah seperti ini, kanker yang terjadi dinyatakan sebagai kanker stadium lanjut.

Secara garis besar, kanker pada anak dibagi atas dua bagian, yaitu kanker darah atau lebih dikenal dengan istilah leukemia dan tumor padat. Gejala yang harus diwaspadai bila mencurigai seorang anak terkena leukemia adalah anak terlihat pucat, sering mengalami demam, dan perdarahan, baik itu di kulit, gusi, atau hidung. Gejala-gejala ini terjadi karena kadar sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah yang rendah akibat produksinya ditekan oleh sel-sel leukemia. Sel-sel leukemia ini tidak puas hanya beredar di sumsum tulang. Sel-sel ini dapat menyebar ke luar dari sumsum tulang menuju hati, limpa, otak, atau tulang. Secara fisik, anak akan terlihat perutnya membuncit akibat hati dan limpa yang membesar. Selain itu, anak biasanya juga akan mengeluh sakit saat berjalan karena sel-sel leukemia yang menyebar ke tulang. Bila sel-sel leukemia sudah menyebar ke otak, anak dapat mengalami kejang. Waspadai gejala-gejala tersebut di atas dan segera bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya untuk dikonfirmasi.

Mengenai tumor padat, hal ini dapat dijumpai pada hampir semua organ tubuh seorang anak, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Orangtua biasanya meraba tumor atau benjolan pada tubuh seorang anak pada saat mereka memandikannya. Seperti prinsip yang telah disebutkan sebelumnya di atas, segera bawa anak ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya untuk mengkonfirmasi apakah benar benjolan yang teraba di tubuh anak itu benar kanker atau bukan. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diwaspadai orangtua bila melihat atau meraba benjolan pada mata, leher, paru, perut, alat kelamin, tangan atau kaki, dan otak.

 

  • Mata

 

Curiga bila mata anak terlihat seperti mata kucing, matanya merah, terjadi gangguan penglihatan, atau juling. Khusus tentang mata merah, biasanya orangtua akan memberi obat tetes mata yang dijual secara bebas di pasaran. Orangtua boleh saja melakukan tindakan tersebut di atas, namun bila dalam tiga hari tidak ada perbaikan, bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya. Bisa saja itu bukan suatu penyakit mata biasa melainkan gejala awal dari kanker mata.

 

  • Leher

 

Waspada bila benjolan yang dijumpai di leher anak bertambah besar dalam waktu yang singkat. Biasanya anak tidak mengeluh kesakitan bila benjolan  ditekan atau dipegang. Berbeda dengan benjolan yang timbul akibat infeksi, yang biasanya akan terasa sakit bila ditekan atau dipegang dan teraba panas bila diraba. Infeksi pada gigi dan telinga dapat menyebabkan benjolan dengan karakteristik tersebut. Konfirmasi perlu dilakukan mengingat penanganan kedua benjolan tersebut di atas yang berbeda.

 

  • Paru

 

Bila pada seorang anak dijumpai sesak napas dan setelah dilakukan foto dada ternyata dijumpai sel kanker di parunya, jangan berpikiran bahwa anak ini terkena kanker paru. Tidak ada kanker paru pada anak. Keadaan ini biasanya merupakan akibat dari penyebaran suatu jenis kanker tertentu ke paru-paru. Salah satu jenis kanker pada anak yang dapat menyebar hingga ke paru-paru adalah kanker tulang.

 

  • Perut

 

Banyak organ yang dapat dijumpai di dalam perut, antara lain hati, ginjal, indung telur, dan lain-lain. Semua organ-organ tersebut di atas dapat terkena kanker. Secara fisik, perut anak akan terlihat membuncit dan bila ditekan akan teraba suatu benjolan. Periksakan segera anak ini ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya. Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua adalah jangan terlalu sering menekan perut anaknya yang makin lama makin membesar karena dapat mempermudah penyebaran.

 

  • Alat kelamin

 

Alat kelamin yang dimaksud adalah alat kelamin pria. Secara fisik, testis kanan dan kiri terlihat tidak sama besar, konsistensi testis yang terkena biasanya keras, dan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi. Kanker pada organ testis, sama seperti halnya paru-paru, dapat merupakan akibat penyebaran dari suatu jenis kanker tertentu ke testis. Jenis kanker yang dimaksud, yang dapat menyebar ke testis adalah leukemia.

 

  • Tangan atau kaki

 

Waspada bila terlihat ada bengkak pada tangan atau kaki. Pembengkakan ini biasanya dapat disertai dengan demam atau nyeri.

 

  • Otak

 

Benjolan pada otak memang tidak dapat dilihat maupun diraba. Walaupun demikian, orangtua tetap dapat mewaspadai gejala kanker otak dengan melihat dampak yang ditimbulkan akibat adanya suatu benjolan di otak. Gejala-gejala tersebut antara lain adalah pusing, muntah yang menyemprot, lumpuh, dan gangguan keseimbangan.

 

Kanker pada dasarnya dapat diobati dan sembuh bila dijumpai pada stadium awal. Itulah pentingnya orangtua harus mengerti dan waspada terhadap gejala-gejala kanker pada anak. Tidak cukup berhenti sampai di situ, jika orangtua mencurigai anaknya terkena kanker, segera bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas kesehatannya lainnya untuk mendapatkan konfirmasi dan penanganan selanjutnya. Sebagai contoh, seorang anak yang terkena kanker mata yang dibawa orangtuanya ke rumah sakit pada stadium awal dan mendapatkan penanganan yang baik dan benar, ternyata memiliki angka harapan hidup bebas tumor dua tahun sebesar 80%. Sebaliknya bila dijumpai pada stadium lanjut, angka harapan hidup bebas tumor dua tahun turun hingga 25%.

Pada akhir tulisan ini, perkenankan Penulis mengutip sebuah kalimat bijak dari seseorang yang bernama Niccolo Machiavelli, yang berbunyi: “Awal penyakit sukar diketahui, mudah diobati. Penyakit yang sudah lanjut mudah diketahui, sukar diobati”.

 


08/Mar/2021

Radioterapi untuk Kanker Payudara

Dewi Syafriyetti​​ Soeis Marzaini

Instalasi Radioterapi RS Kanker “Dharmais”

Apa yang dimaksud dengan radioterapi?

Radioterapi atau terapi radiasi adalah jenis pengobatan yang menggunakan​​ foton​​ atau partikel berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.​​ Umumnya radioterapi diberikan dari luar tubuh dengan suatu alat yang disebut​​ linear​​ accelerator​​ (Linac).​​ Alat ini menggunakan gelombang radiofrekuensi elektromagnetik untuk​​ mempercepat pergerakan​​ partikel bermuatan (misalnya elektron)​​ di dalam struktur seperti tabung​​ (accelerator)yang kemudian bertumbukan dengan logam berat. Hasil tumbukan tersebut adalah sinar X berenergi tinggi atau disebut foton​​ (Gambar 1).

Radioterapi kanker payudara merupakan terapi​​ lokal, yaitu hanya pada daerah​​ tumor yang​​ mendapat radiasi saja, atau lokoregional, yang mencakup tumor dan kelenjar getah bening di sekitarnya. Terapi radiasi diberikan oleh dokter ahli onkologi radiasi.

 

Gambar​​ 1. Ilustrasi alat​​ linear accelerator​​ dan berkas foton berenergi tinggi yang dipancarkannya.

Kapan radioterapi diberikan?

Saat ini kombinasi operasi dan radioterapi merupakan tulang punggung penatalaksaan kanker payudara stadium dini.​​ Radioterapi berperan penting dalam menurunkan angka kekambuhan lokal​​ (local recurrence)​​ dan meningkatkan ketahanan hidup setelah​​ operasi. Radioterapi diberikan sebagai bagian dari rencana penatalaksanaan lengkap berdasarkan stadium penyakit dan perangai biologis kanker tersebut.​​ Untuk praktisnya, tingkat keparahan​​ kanker payudara dapat dibagi menjadi:

  • Stadium dini, yang meliputi stadium I, II, dan IIIA yang masih dapat dioperasi;

  • Stadium lanjut,​​ metastatik dan tidak dapat dioperasi yang meliputi stadium IIIB,​​ IIIC​​ dan IV.

Pada stadium dini, kanker payudara diberikan sebagai terapi ajuvan (tambahan) setelah operasi,​​ baik​​ yang menjalani​​ breast conserving surgery​​ (BCS)​​ dengan lumpektomi maupun mastektomi. Radioterapi mulai diberikan 3-4 minggu setelah operasi. Tujuannya untuk membunuh sel-sel kanker yang tidak terdeteksi dan menurunkan risiko kekambuhan pada payudara yang terkena dan kelenjar getah bening di sekitar payudara.​​ Bagi pasien yang menjalani mastektomi, radioterapi diberikan jika terdapat: penyebaran ke 4 atau lebih kelenjar getah bening, kanker menyebar ke jaringan di sekitar kelenjar getah bening, tumor berukuran besar, masih ada sel-sel tumor di sekitar batas-batas sayatan operasi pengangkatan tumor.

Pada stadium lanjut, radioterapi​​ biasanya​​ diberikan​​ setelah kemoterapi yang diikuti operasi (kemoterapi ajuvan). Jika terdapat penyebaran jauh (metastasis), radioterapi dapat diberikan untuk mengurangi gejala-gejala di tempat penyebaran tersebut. Sebagai contoh, radioterapi dapat diberikan untuk mengurangi nyeri di tempat terjadinya metastasis tulang.

Bagaimana radioterapi diberikan?

Radiasi Eksternal

Radiasi eksternal merupakan cara terbanyak yang dipakai, yaitu dengan memberikan berkas sinar dari luar tubuh oleh suatu mesin pembangkit radiasi, yang disebut​​ linear accelerator​​ (linac).​​ Berkas sinar diarahkan dan difokuskan pada target, yaitu daerah tubuh yang terkena kanker.​​ Terapi hanya berlangsung beberapa menit dan tidak ada rasa nyeri. Terapi umumnya diberikan 5 hari seminggu (Senin sampai Jum’at) selama 5-6 minggu.

Radiasi eksternal paling sering diberikan pada mereka yang telah menjalani tindakan bedah.Luasnya area tubuh yang disinar tergantung pada tindakan bedah sebelumnya,​​ mastektomi atau BCS​​ (Gambar​​ 2),​​ atau berapa banyak kelenjar getah bening yang terkena.

  • Jika dilakukan mastektomi dan tidak ada kelenjar getah bening yang terkena, radiasi diarahkan pada dinding dada;

  • Jika dilakukan BCS, radiasi diarahkan pada seluruh payudara​​ (whole breast)​​ dengan tambahan​​ (booster)​​ pada area yang dilakukan pengangkatan tumor untuk mencegah kekambuhan. Radiasi​​ booster​​ diberikan setelah terapi radiasi pada payudara selesai.

  • Jika kanker ditemukan di kelenjar getah bening ketiak, radiasi juga dapat diberikan di daerah tersebut. Kadang-kadang diperlukan pula radiasi di atas tulang selangka​​ (supraclavicula),​​ jika kelenjar getah bening supraklavikula terkena​​ dan​​ radiasi pada​​ kelenjar getah bening di bawah tulang dada​​ (mammaria interna).​​ Lokasi anatomik kelenjar getah bening sekitar payudara diberikan pada Gambar 3.

Gambar​​ 2.​​ Radiasi eksternal dapat diberikan setelah lumpektomi atau mastektomi.​​ 

Gambar​​ 3. Lokasi kelenjar getah bening yang berada di sekitar payudara.

 

Perencanaan radiasi eksternal

Sebelum terapi radiasi dimulai, tim radiasi akan melakukan pengukuran terlebih dahulu untuk mendapatkan sudut-sudut yang tepat ketika mengarahkan sinar sehingga dosis radiasi juga tepat sasaran​​ (Gambar 4). Daerah yang disinar diberi tanda dengan tinta di kulit untuk mengarahkan fokus radiasi pada daerah yang tepat.​​ Sekarang perencanaan radioterapi dilakukan secara 3 dimensi dengan bantuan CT-scan. Dengan teknik ini, daerah yang akan disinar diukur dengan ketepatan yang tinggi sehingga sebagian sinar terfokus pada tumor saja dan tidak pada jaringan di sekitarnya yang sehat.

Gambar​​ 4.​​ Perencanaan terapi radiasi dengan mengukur berbagai sudut penyinaran.

3D-Conformal Radiotherapy

Teknik​​ ini merupakan kemajuan teknologi radiasi eksternal, yaitu pemberian radiasi dengan​​ linac​​ khusus yang dapat mengarahkan sinar mengikuti bentuk tumor. Keuntungan teknik ini adalah berkas sinar dapat lebih terfokus pada daerah target di mana tumor berada dan mengurangi risiko sinar mengenai jaringan yang sehat. Dengan cara ini, hanya sebagian payudara yang terkena radiasi (parsial). Dosis dapat lebih rendah dan waktu pemberian dapat lebih singkat. Oleh karena itu, metode ini juga disebut​​ accelerated partial breast irradiation.

Radiasi Internal(Brachytherapy)

Perkembangan​​ teknologi memungkinkan terapi radiasi internal, yaitu pemberian sinar oleh​​ zat-zat radioaktif​​ yang dimasukkan​​ ke​​ dalam​​ atau di dekat kanker.​​ Bentuknya dapat berupa jarum, pil, serat, atau kateter.​​ Namun, teknik ini masih dalam tahap penelitian dan belum dilakukan secara rutin untuk kanker payudara di Indonesia.

Efek Samping Radioterapi

Terapi radiasi memiliki efek samping yang bervariasi dari pasien yang satu ke pasien lainnya. Meskipun ada banyak kemungkinan efek samping yang dapat terjadi, jarang semuanya muncul pada satu orang. Beberapa pasien mungkin hanya mengalami sedikit efek samping, tetapi ada juga yang dapat mengalami kejadian efek samping berat.​​ Efek samping dapat muncul segera (jangka pendek) atau muncul di kemudian hari (jangka panjang).

Efek samping jangka pendek

Efek samping tersering adalah:

  • Iritasi kulit seperti terbakar di daerah yang terkena sinar;

  • Kulit kemerahan, kering, nyeri atau gatal;

  • Payudara terasa berat

  • Perubahan warna, tampak kemerahan atau kebiruan

  • Badan terasa lelah​​ (fatigue)

Mual dan muntah tidak lazim terjadi pada terapi radiasi; demikian pula kerontokan rambut di kepala. Namun, jika radiasi diberikan pada daerah ketiak, dapat terjadi kerontokan rambut ketiak.​​ Efek samping kulit yang berat dapat berbentuk lepuhan dan pengelupasan. Hindari sinar matahari pada daerah yang disinar karena dapat memperparah kondisi. Sebagian besar masalah kulit hilang dalam beberapa bulan.

Efek samping jangka panjang

Ada beberapa efek samping yang baru muncul lama setelah terapi radiasi. Perubahan warna kulit menjadi kecoklatan atau kemerahan mungkin menjadi permanen. Pada beberapa orang, payudara dapat mengecil atau agark keras setelah radiasi. Perubahan ini berlangsung sekitar 6-12 bulan, paling lama 2 tahun.

Jika pasien menjalani radiasi pada kelenjar getah bening ketiak atau operasi pengangkatan kelenjar getah bening ketiak, pasien dapat mengalami penumpukan cairan getah bening yang disebut limfedema berupa lengan atas yang membengkak.

Radiasi juga dapat menyebabkan kerusakan pada serabut-serabut saraf. Keadaan ini disebut​​ brachial plexopathy​​ dengan gejala-gejala baal, nyeri, kelemahan otot pada bahu, lengan, dan tangan.

Bagaimana Mengatasi Efek​​ Samping?

Umumnya semua efek samping dapat diatasi atau hilang sendiri setelah radiasi selesai. Beritahu perawat atau konsultasi dengan dokter ahli radioterapi jika terdapat efek samping yang mengganggu atau tidak nyaman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum dan ketika menjalani terapi radiasi adalah:

  • Pemakaian BH (kutang) atau baju yang ketat dapat menekan kulit dan menyebabkan iritasi. Sebaiknya pakai baju katun yang longgar selama terapi;

  • Perawatan kulit yang cermat. Penggunaan deodoran, losion, atau krim perlu dikonsultasikan terlebih dahulu sebelum terapi;

  • Terapi radiasi membutuhkan tubuh yang bugar. Jadi, istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi tinggi harus menjadi prioritas.

  • Meskipun demikian, pasien juga perlu tetap aktif, kecuali ada masalah nyeri atau hal lain. Olah raga rutin dapat mengurangi rasa kelelahan yang sering dialami pasien karena terapi radiasi.

 

Terapi pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan jika muncul rasa nyeri yang mengganggu. Masalah kulit di payudara dapat diatasi dengan krim khusus yang nyaman di kulit sampai terapi selesai dan iritasi kulit sembuh.

Daftar Pustaka

 

1


POI logo

Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) adalah organisasi perhimpunan profesi seminat yang beranggotakan dokter spesialis dalam bidang onkologi.

Copyright POI Jaya 2025. All rights reserved.

; } .etn-event-item .etn-event-category span, .etn-btn, .attr-btn-primary, .etn-attendee-form .etn-btn, .etn-ticket-widget .etn-btn, .schedule-list-1 .schedule-header, .speaker-style4 .etn-speaker-content .etn-title a, .etn-speaker-details3 .speaker-title-info, .etn-event-slider .swiper-pagination-bullet, .etn-speaker-slider .swiper-pagination-bullet, .etn-event-slider .swiper-button-next, .etn-event-slider .swiper-button-prev, .etn-speaker-slider .swiper-button-next, .etn-speaker-slider .swiper-button-prev, .etn-single-speaker-item .etn-speaker-thumb .etn-speakers-social a, .etn-event-header .etn-event-countdown-wrap .etn-count-item, .schedule-tab-1 .etn-nav li a.etn-active, .schedule-list-wrapper .schedule-listing.multi-schedule-list .schedule-slot-time, .etn-speaker-item.style-3 .etn-speaker-content .etn-speakers-social a, .event-tab-wrapper ul li a.etn-tab-a.etn-active, .etn-btn, button.etn-btn.etn-btn-primary, .etn-schedule-style-3 ul li:before, .etn-zoom-btn, .cat-radio-btn-list [type=radio]:checked+label:after, .cat-radio-btn-list [type=radio]:not(:checked)+label:after, .etn-default-calendar-style .fc-button:hover, .etn-default-calendar-style .fc-state-highlight, .etn-calender-list a:hover, .events_calendar_standard .cat-dropdown-list select, .etn-event-banner-wrap, .events_calendar_list .calendar-event-details .calendar-event-content .calendar-event-category-wrap .etn-event-category, .etn-variable-ticket-widget .etn-add-to-cart-block, .etn-recurring-event-wrapper #seeMore, .more-event-tag, .etn-settings-dashboard .button-primary{ background-color: #000000;}